Senin, 12 Maret 2012


Perancangan Bangunan Tradisional Sunda Sebagai Pendekatan Kearifan Lokal, Ramah Lingkungan Dan Hemat Energi



 Permasalahan krisis lingkungan dan krisis energi (listrik, BBM) yang diiringi dengan semakin menyusutnya ruang terbuka hijau, pemborosan energi, pemborosan bahan bangunan , mendorong berbagai kalangan (arsitek, arsitek lanskap, desainer interior, produsen bahan bangunan, dan lain-lain) untuk berpikir ulang tentang paradigma membangun rumah berkelanjutan dan ramah lingkungan. Perwujudan desain bangunan tersebut sebenarnya sudah dilakukan sejak jaman dahulu, seperti mendirikan rumah panggung yang bertujuan supaya tidak lembab dan nyaman, perwujutanya adalah disebut dengan bangunan tradisional. Bangunan tradisional merupakan bangunan dibuat
oleh masyarakat di daerah yang banyak menyimpan berbagai kelebihan Salah satu contohnya bangunan tradisional di Kampung Kranggan. Proses pembangunan dan teknik pembangunannya umumnya sederhana dan bahkan tidak terlalu memperhatikan aspekaspek desain yang hemat energi. Tetapi didalam operasionalnya, bangunan ini justru lebih hemat dibandingkan dengan bangunan-bangunan modern yang dibangun diperkotaan dengan bantuan arsitek. Salah satu penyebab hal ini adalah adanya sistematisasi sistem bangunan tradisional, yang mencakup struktur, utilitas, interior, dan envelope-nya. Hal inilah yang dicoba diungkapkan ditulisan ini dengan dengan menguraikan keberadaan sistem perancangan bangunan tradisional melalui survey langsung danmembandingkan terhadap antara kampung tradisional di Jawa Barat, yaitu Kampung Naga yang ada di Garut dengan Kampung Kranggan yang ada di Pondok Gede, Bekasi. Kampung Kranggan merupakan salah satu kampung tradisional sunda yang masih hidup diantara megapolitan Jakarta.. Maka penelitian ini bertujuan untuk mewujudkan perancangan bangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan hemat energi, yang berakar dari arsitektur tradisional. Sehingga nantinya permasalahan krisis lingkungan dan krisis energi bisa teratasi.

AgungWahyudi, Jurusan Teknik Arsitektur , Fakultas Teknik, Universitas Gunadarma
http://localwisdom.ucoz.com/load/jolw_edisi2/perancangan_bangunan_tradisional_sunda_sebagai_pendekatan_kearifan_lokal_ramah_lingkungan_dan_hemat_energi/3-1-0-10



' SUNDANISE WISDOM '


BAHAN PAGUNEMAN AWAL TAHUN
MEMBANGUN KARAKTER KI SUNDA MELALUI
KONSEP ALAMCERDAS DAN KEARIFAN BUDAYA SUNDA
LSS-ITB, BANDUNG 11 JANUARI 2011



REVOLUSI HIJAU DARI TATAR SUNDA
NGANGON KALAKAY JEUNG TUTUNGGUL
( TANAMAN SEBAGAI PABRIK MIKRO BIOMASSA)


oleh  
Dr.Ir.Mubiar Purwasasmita
Ketua Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda
Dosen Fakultas Teknologi Industri ITB Program Studi Teknik Kimia
Kelompok Keahlian Perancangan dan Pengembangan Proses Teknik Kimia
Jalan Ganesha No. 10  Bandung 40132


Abstrak
Hipotesa keilmuan yang  melandaskan diri pada keterbatasan sumberdaya alam karena pertambahan penduduk ternyata tidak benar dan mengingkari  keyakinan kehadiran Kasihsayang dan Kemahadilan Allah Yang Maha Kuasa.  Keberlanjutan kehidupan manusia justru  memerlukan pertambahan kehidupan lain yaitu tanaman dan binatang, sehingga hipotesa keilmuan yang seharusnya diterapkan adalah memelihara dan menjamin terjadinya keseimbangan antara pertambahan penduduk dengan pertambahan tanaman dan binatang. Pertambahan kehidupan  memerlukan ruang  hidup untuk tumbuh, begerak, menyimpan pasokan air dan udara sebagai sumber kehidupan. Dengan demikian dapat diidentifikasi adanya dua siklus utama yang berinteraksi kuat  dalam suatu ekosistem yaitu siklus ruang dan siklus kehidupan, yang seharusnya menjadi sasaran semua upaya keilmuan. Rujukan hipotesa baru ini akan mencetuskan berbagai kegiatan ramah lingkungan dan ramah kehidupan, seperti pertanian, perindustrian, perekonomian, dan pengembangan wilayah yang  ramah lingkunga, yang dapat ditunjukkan dengan  senantiasa terjadi peningkatan produksi biomassa.
Penerapan hipotesa baru keilmuan pada olahlahan membuka inovasi penggunaan  kompos sebagai generator siklus ruang dan mikroorganisme lokal (MOL) sebagai pemicu terjadinya siklus kehidupan, dan bangunan  keterkaitan alami, hayati dan insani secara utuh sehingga  mampu membuka paradigma baru penyuburan bumi untuk mewujudkan kesejahteraan penduduknya, khususnya bagi para petani, yang diawali dengan menghadirkan upaya alami meningkatkan jumlah dan kualitas produksi biomassa.
Kata Kunci :
Koreksi Hipotesa Keilmuan, Siklus  Ruang, Siklus Kehidupan, Infrastruktur Alam, Infrastruktur Buatan,  Siklus Udara, Siklus Air, Siklus Biomassa, Ekosistem Bioreaktor-Tanaman, Kompos, Mikroorganisme lokal (MOL), Intensifikasi Proses (PI), Production on demand (POD),


1.      Koreksi Hipotesa Keilmuan

2.      Konsep Alam Cerdas Indonesia

3.      Peran Hutan dan Semak Belukar sebagai Infrastruktur Alam

4.      Keterkaitan Ekosistem Multiskala

5.      Rancangan Penerapan

6.      Menerapkan Tani Ramah Lingkungan di Rumah, Kota dan Desa

7.      Peningkatan Produksi Biomassa

8.      Kesimpulan




Flag Counter