Penghijauan Desa Ciporeat dan Mekarmanik - Kabupaten Bandung
Optimalisasi Potensi Desa
Rabu, 12 Juni 2013
Senin, 12 Maret 2012
Perancangan Bangunan Tradisional Sunda Sebagai Pendekatan Kearifan Lokal, Ramah Lingkungan Dan Hemat Energi
Permasalahan krisis lingkungan dan krisis energi (listrik, BBM) yang diiringi dengan semakin menyusutnya ruang terbuka hijau, pemborosan energi, pemborosan bahan bangunan , mendorong berbagai kalangan (arsitek, arsitek lanskap, desainer interior, produsen bahan bangunan, dan lain-lain) untuk berpikir ulang tentang paradigma membangun rumah berkelanjutan dan ramah lingkungan. Perwujudan desain bangunan tersebut sebenarnya sudah dilakukan sejak jaman dahulu, seperti mendirikan rumah panggung yang bertujuan supaya tidak lembab dan nyaman, perwujutanya adalah disebut dengan bangunan tradisional. Bangunan tradisional merupakan bangunan dibuat
oleh masyarakat di daerah yang banyak menyimpan berbagai kelebihan Salah satu contohnya bangunan tradisional di Kampung Kranggan. Proses pembangunan dan teknik pembangunannya umumnya sederhana dan bahkan tidak terlalu memperhatikan aspekaspek desain yang hemat energi. Tetapi didalam operasionalnya, bangunan ini justru lebih hemat dibandingkan dengan bangunan-bangunan modern yang dibangun diperkotaan dengan bantuan arsitek. Salah satu penyebab hal ini adalah adanya sistematisasi sistem bangunan tradisional, yang mencakup struktur, utilitas, interior, dan envelope-nya. Hal inilah yang dicoba diungkapkan ditulisan ini dengan dengan menguraikan keberadaan sistem perancangan bangunan tradisional melalui survey langsung danmembandingkan terhadap antara kampung tradisional di Jawa Barat, yaitu Kampung Naga yang ada di Garut dengan Kampung Kranggan yang ada di Pondok Gede, Bekasi. Kampung Kranggan merupakan salah satu kampung tradisional sunda yang masih hidup diantara megapolitan Jakarta.. Maka penelitian ini bertujuan untuk mewujudkan perancangan bangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan hemat energi, yang berakar dari arsitektur tradisional. Sehingga nantinya permasalahan krisis lingkungan dan krisis energi bisa teratasi.
AgungWahyudi, Jurusan Teknik Arsitektur , Fakultas Teknik, Universitas Gunadarma
http://localwisdom.ucoz.com/load/jolw_edisi2/perancangan_bangunan_tradisional_sunda_sebagai_pendekatan_kearifan_lokal_ramah_lingkungan_dan_hemat_energi/3-1-0-10
' SUNDANISE WISDOM '
BAHAN PAGUNEMAN AWAL TAHUN
MEMBANGUN KARAKTER KI SUNDA MELALUI
KONSEP ALAMCERDAS DAN KEARIFAN BUDAYA SUNDA
LSS-ITB, BANDUNG 11 JANUARI 2011
REVOLUSI HIJAU DARI TATAR
SUNDA
NGANGON KALAKAY JEUNG
TUTUNGGUL
( TANAMAN SEBAGAI PABRIK MIKRO
BIOMASSA)
oleh
Dr.Ir.Mubiar
Purwasasmita
Ketua Dewan
Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda
Dosen Fakultas
Teknologi Industri ITB Program Studi Teknik Kimia
Kelompok
Keahlian Perancangan dan Pengembangan Proses Teknik Kimia
Jalan Ganesha No. 10 Bandung 40132
Abstrak
Hipotesa
keilmuan yang melandaskan diri pada
keterbatasan sumberdaya alam karena pertambahan penduduk ternyata tidak benar
dan mengingkari keyakinan kehadiran Kasihsayang
dan Kemahadilan Allah Yang Maha Kuasa.
Keberlanjutan kehidupan manusia justru
memerlukan pertambahan kehidupan lain yaitu tanaman dan binatang,
sehingga hipotesa keilmuan yang seharusnya diterapkan adalah memelihara dan menjamin
terjadinya keseimbangan antara pertambahan penduduk dengan pertambahan tanaman
dan binatang. Pertambahan kehidupan memerlukan ruang hidup untuk tumbuh, begerak, menyimpan
pasokan air dan udara sebagai sumber kehidupan. Dengan demikian dapat
diidentifikasi adanya dua siklus utama yang berinteraksi kuat dalam suatu ekosistem yaitu siklus ruang dan
siklus kehidupan, yang seharusnya menjadi sasaran semua upaya keilmuan. Rujukan
hipotesa baru ini akan mencetuskan berbagai kegiatan ramah lingkungan dan ramah
kehidupan, seperti pertanian, perindustrian, perekonomian, dan pengembangan
wilayah yang ramah lingkunga, yang dapat
ditunjukkan dengan senantiasa terjadi
peningkatan produksi biomassa.
Penerapan
hipotesa baru keilmuan pada olahlahan membuka inovasi penggunaan kompos sebagai generator siklus ruang dan mikroorganisme
lokal (MOL) sebagai pemicu terjadinya siklus kehidupan, dan bangunan keterkaitan alami, hayati dan insani secara
utuh sehingga mampu membuka paradigma
baru penyuburan bumi untuk mewujudkan kesejahteraan penduduknya, khususnya bagi
para petani, yang diawali dengan menghadirkan upaya alami meningkatkan jumlah
dan kualitas produksi biomassa.
Kata Kunci
:
Koreksi Hipotesa Keilmuan, Siklus Ruang, Siklus Kehidupan, Infrastruktur Alam, Infrastruktur
Buatan, Siklus Udara, Siklus Air, Siklus
Biomassa, Ekosistem Bioreaktor-Tanaman, Kompos,
Mikroorganisme lokal (MOL), Intensifikasi Proses (PI), Production on demand (POD),
1. Koreksi Hipotesa Keilmuan
2. Konsep Alam Cerdas Indonesia
3. Peran Hutan dan Semak Belukar sebagai
Infrastruktur Alam
4.
Keterkaitan
Ekosistem Multiskala
5. Rancangan Penerapan
6. Menerapkan Tani Ramah Lingkungan di
Rumah, Kota dan Desa
7. Peningkatan Produksi Biomassa
8. Kesimpulan
Langganan:
Postingan (Atom)